Batik Handayani

Kaum Muda dan Perspektifnya Mengenai Batik

Gaya busana yang dikombinasikan dengan produkmotif batik tampak sangat menawan

Berawal dari sebuah titik, batik telah melalui perjalanan panjang. Kini, batik bukan lagi hanya milik para tetua yang mapan. Anggapan batik menurut kaum muda sudah menjadi bagian dari gaya hidup para kawula muda. Kaum muda tak segan lagi berbatik. Kaum muda tak sekadar mengenakan kain tradisional tersebut sebagai pakaian, menjadikannya aksen penampilan. Tak sedikit dari kaum muda yang belajar mengenal, mempelajari, sampai membuatnya sendiri.

Seperti dijelaskan oleh banyak pengertian dari beberapa ahli, batik adalah sebuah proses. Lewat ketekunan tiap goresan canting, membuat batik bukan hanya sekadar motif.

Apa itu batik sudah mulai dipahami oleh generasi milenial yang dikenal kritis, mereka mengaitkan batik dengan canting, lukisan di atas kain, warisan budaya, hingga sebagai karakter dan identitas bangsa Indonesia.

Tingginya minat dan pemahaman kaum milenial terhadap batik, membuat banyak dari mereka yang tak hanya ambil peran sebagai konsumen. Ya, kaum muda juga sudah mulai ikut serta dalam pelestarian warisan budaya bangsa ini.

Mereka mulai mengoleksi batik tulis. Ada pula yang tergerak merancang ragam pakaian berbahan batik dengan potongan kekinian. Belakangan malah mulai bermunculan generasi baru para pembatik, dengan melakukan pelatihan di rumah-rumah untuk mengerti apa itu batik dan ingin menciptakan sendiri motif batik yang dianggap sesuai dengan masanya.

Batik Handayani di Kawasan Kampung Batik Rejomulyo adalah satu dari sekian banyak yang dianggap mewakili budaya populer. Karya-karya dinilai keren oleh para milenial, karena menggunakan batik sebagai salah satu bahan dasar dengan warna yang didominasi oleh warna cerah tidak selalu gelap. Atasan dengan model rok lipat dan blouse seperti yang ditawarkan oleh Batik Handayani dengan motif lurik sangat menarik oleh generasi milenial.

Hal-hal ini secara langsung atau tidak, berpengaruh terhadap industri batik. Seperti yang terjadi di Kampung Batik Rejomulyo misalnya. Industri batik rumahan yang sempat mati suri belasan tahun, rodanya kini tak sekadar mulai berputar lagi, bahkan melaju pesat.

Seperti apa perjalanan batik di Indonesia yang tadinya dianggap sebagai pakaian orang tua namun kini digemari anak muda? Laporan kali ini akan mengupasnya.

Merunut asal katanya, batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu amba, yang berarti ‘menulis’ dan tik yang artinya nitik atau “membuat titik”. Istilah itu kemudian berkembang menjadi kata batik. Batik secara luas artinya proses menggambar motif pada kain dengan menggunakan lilin (malam) yang dipanaskan dan diteteskan pada kain menggunakan canting.

Definisi batik ini telah disepakati pada Konvensi Batik Internasional di Yogyakarta pada 1997. Meski demikian, masyarakat awam telanjur memahami batik sebagai corak atau motif kain yang khas tradisional bukan sebagai proses.

Pengakuan dari UNESCO itu kemudian diiringi dengan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 yang menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Sejak saat itulah masyarakat Indonesia semakin bangga dan gemar mengenakan batik. Para karyawan kini mulai terbiasa memakai batik terutama pada hari Jumat. Kebersamaan dan kebanggaan dalam memakai batik sering mereka tunjukkan di linimasa media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Path dengan mengirimkan swafoto berkelompok ke akun masing-masing.

Berbagai kalangan mulai dari pekerja kantoran, wirausaha, pekerja seni, hingga pelajar dan mahasiswa mulai mengenakan pakaian batik. Batik telah menjadi salah satu wastra (kain) nusantara yang dibanggakan.

Fakta bahwa batik sudah menjadi bagian dari gaya berbusana masyarakat Indonesia juga tampak dalam hasil jajak pendapat KOMPAS. Separuh responden yang berhasil terjaring dalam jajak pendapat mengaku memiliki pakaian bermotif batik lebih dari lima potong. Bahkan, 37 persen responden mengaku menyimpan pakaian batik lebih dari 11 potong dengan berbagai model di lemari mereka.

Batik memang semakin diminati lantaran kegunaannya tidak lagi terbatas untuk acara-acara formal. Sejumlah kantor pemerintah dan perusahaan swasta mewajibkan karyawan mengenakan baju batik pada hari-hari tertentu.

Motifnya pun tidak melulu harus seragam. Karyawan di sejumlah perusahaan bebas menggunakan pakaian batik dengan motif sesuai dengan selera masing-masing. Bagi sebagian pekerja kantoran, hari Jumat menjadi hari wajib berpakaian batik. Tanpa diminta pun banyak karyawan baik laki-laki maupun perempuan sukarela berbatik ria ke kantor.

Motif batik juga menjadi tren seragam sekolah. Banyak instansi pendidikan yang mewajibkan murid-muridnya mengenakan baju batik. Terangkatnya pamor batik Nusantara tak lepas dari kreativitas para perancang busana yang kerap memasukkan ragam motif batik dalam rancangan busana modern dan aksesorinya.

Pakaian bermotif batik semakin banyak diminati masyarakat karena cenderung fleksibel dan mudah disesuaikan untuk beragam momentum acara tanpa khawatir terkesan kuno atau ketinggalan zaman.

Batik kini tak lagi berbentuk selembar kain yang didominasi warna cokelat. Ragam batik telah banyak berkembang menjadi aneka ragam produk mode kekinian.

Teknik Batik Masa kini

Batik masa kini tidak hanya dikerjakan menggunakan canting yang menggoreskan malam di atas mori berwarna putih. Dulu proses pengerjaan batik tulis sangat rumit dan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Proses membuat batik tulis memang lebih rumit, baik saat menggambar dengan malam maupun saat mewarnai. Meski demikian batik tulis memiliki nilai seni yang tinggi dan harga biasanya akan lebih mahal.

Pembuatan batik memang banyak caranya, selain menggunakan teknik batik tulis juga terdapat teknik lainnya yaitu membuat batik dengan teknik cap, teknik ikat celup dan teknik printing.

Dalam beberapa pertanyaan untuk generasi milenial ditanya soal pendapat mereka tentang batik dalam satu kata. Jawabannya beragam. Mulai dari keren, cantik, berkelas, indah, anggun, mewah, unik, warisan, Jawa, tua, karya, sejarah, tekun, susah, kuno, epik, elegan, rahasia, evolusi, dan budaya.

Batik juga termasuk slow fashion, jadi bukan sesuatu yang jadi tren sesaat, tapi bisa dipakai dalam jangka waktu panjang. Bahkan sampai puluhan tahun lagi dan jadi benda warisan untuk anak-cucu kita nanti

Kebangkitan industri batik di era milenial ini bisa dibuktikan dengan bermunculannya toko batik yang dijalankan oleh anak muda.

Saat ini anak muda sudah mulai peduli akan batik. Mereka juga sudah cukup mampu membeli batik asli. Soal pilihan batik, mungkin motif-motif yang seru dan warna yang kekinian lebih cocok untuk anak muda,”

Namun, kembali lagi pada selera yang tak bisa dipaksakan, ada juga anak muda yang menyenangi motif batik klasik atau batik-batik langka, dan itu semua dimiliki oleh Toko Batik Handayani

Anak muda menyukasi batik kontemporer dengan warna-warna pastel yang lebih segar layak jadi pilihan. Namun, tak ada ketentuan anak muda harus pakai batik apa. Kembali lagi pada selera masing-masing.

Kini batik bisa digunakan sesuai keinginan penggunanya tanpa harus mengikuti pakem tertentu. Pilihan jenis kain untuk batik pun bisa beragam, mulai dari sutra, atbm, mori, dan kain lain. Jenis kain tak berpengaruh, selama proses membatik dilakukan semestinya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat generasi milenial semakin cinta pada batik, misalnya pemilihan motif dan model. Saat ini, sudah ada motif batik yang tak lagi menimbulkan kesan kuno, misalnya lawang sewu, burung blekok  dalam Motif Semarang yang dapat ditemukan di Toko Batik Handayani

Para milenial mungkin bertanya-tanya mengapa harga batik itu mahal. Namun, pemilik Toko Batik Handayani, Handayani menjelaskan bahwa proses membatik, baik itu dengan teknik tulis mau pun cap, butuh waktu lama, sehingga wajar saja bila harganya lebih mahal dibanding tekstil motif batik yang dibuat dengan mesin cetak.

Memang tak ada paksaan untuk berbatik. Namun, kalau bukan anak muda, siapa lagi yang akan meneruskan warisan budaya ini? Melestarikan batik tak harus repot-repot dengan cara membuatnya, cukup dengan memakainya saja, berarti Anda sudah ikut andil dalam pelestarian.

Tahun 2009 lalu, batik telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO. Adalah tugas milenial sebagai penerus untuk mempertahankannya.

Leave a Reply

Close Menu